::: Bagi Peserta Tes Gelombang II sudah dapat di Unduh pada Pengumuman ::: Untuk saat ini Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) belum bisa digunakan. untuk Info lebih lanjut dapat menghubungi Bagian akademik ::: Pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) Genap T.A 2014/2015 dimulai tanggal 20 s.d 25 April 2015. Untuk Jadwal UTS Genap mengikuti Jadwal Perkuliahan seperti biasa. :::

Selamat Datang di STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung

Visi : Terwujudnya Insan Pendidik Yang Berkemajuan dan Mencerahkan 2020

Peresmian Gedung Babel STKIP MBB

Prof. Dr. Din Syamsudin, MA meresmikan Gedung Baru STKIP MBB sekaligus memberi sambutan dan Kuliah Umum bagi Mahasiswa dan Tamu Undangan

Peresmian Gedung Babel STKIP MBB

Penandatanganan Peresmian Gedung baru STKIP MBB oleh Prof. Dr. Din Syamsudin, MA ( Ketua PP Muhammadiyah ) dan Rustam Effendi, BA ( Gubernur Provinsi Kep. Bangka Belitung )

MOU STKIP MBB dengan BANGKA POS

Penandatanganan Memorandum Of Understanding (MOU) oleh Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd. dengan Daryono

MOU STKIP MBB dengan Bank Syariah Bangka Belitung

Penandatanganan Memorandum Of Understanding (MOU) oleh Dr. Asyraf Suryadin, M.Pd. dengan Helly Yuda

Kamis, 23 April 2015

PPL bagi Mahasiswa

A. Arti Pentingnya PPL Bagi Mahasiswa
Program pengalaman lapangan merupakan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanaan oleh mahasiswa yang berlatarkan prodi/jurusan kependidikan dan keguruan untuk mencapai gelar sarjana pendidikan. Mencakup latihan mengajar secara terbimbing, terpadu, maupun tugas – tugas keguruan dan kependidikan lain untuk memenuhi persyaratan profesi kependidikan.
Program pegalaman lapangan yang dilaksanakan mahasiswa di sekolah sebenarnya bukan kegiatan pengabdian pada sekolah yang bersangkutan, tapi PPL adalah kegiatan kependidikan untuk meningkatkan dan memperdalam ketrampilan mahasiswa yang terkait dengan praktik mengajar dan praktik persekolahan. Dengan demikian kegiatan PPL harus lebih menekankan ketrampilan mahasiswa dalam bidang keguruan, baik itu kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan manajemen sekolah lainnya.
Dalam pelaksanaannya mahsiswa dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Koordinator PPL dan Guru Pamong yang telah ditunjuk oleh Kepala Sekolah dengan dasar kesesuaian mata pelajaran dan pengalaman mengajar. Sehingga diharapkan melalui Program Pengalaman Lapangan (PPL) ini mahasiswa akan mampu membentuk sepuluh kompetensi yang dipersyaratkan untuk menjadi guru yang professional.

B. Tujuan PPL bagi Mahasiswa
a.   Tujuan dari kegiatan PPL adalah sebagai berikut :
  1. Membentuk profesionalitas guru atau tenaga kependidikan, baik yang berkenaan dengan latihan mengajar di kelas, pengelolhan administrasi sekolah maupun dalam memecahkan persoalan sekolah.
  2. Memenuhi syarat target kurikulum untuk merealisasikan tujuan tersebut setiap aktivitas PPL harus mengacu pada terbentuknya tenaga kependidikan yang formal.
b.   Sasaran
Secara garis besar landasan dari kegiatan PPL adalah sepuluh kompetensi guru, namun dalam rangka pengembangan, maka orientasi kerja PPL diarahkan pada prinsip fungsional artinya peserta harus memenuhi target dalam pencapaian volume kerja seperti yang telah ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan.
Dalam hal ini sasaran dimaksudkan sebagai program pengalaman lapangan pribadi calon pendidik yang memiliki seperangkat pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap serta pola tingkah laku yang diperlukan bagi profesi tenaga kependidikan serta mampu dan tepat menggunakannya dalam penyelengaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Rabu, 22 April 2015

PEMBELAJARAN MICROTEACHING

Microteaching berasal dari dua kata yaitu micro yang berarti kecil, terbatas, sempit danteaching berarti mengajar. Jadi, Microteaching berarti suatu kegiatan mengajar yang dilakukan dengan cara menyederhanakan atau segalanya dikecilkan. Maka, dengan memperkecil jumlah siswa, waktu, bahan mengajar dan membatasi keterampilan mengajar tertentu, akan dapat diidentifikasi berbagai keunggulan dan kelemahan pada diri calon guru secara akurat.
Microteaching atau pembelajaran mikro, dijelaskan oleh para ahli dengan berbagai pengertian. Di antaranya adalah Mc. Laughlin dan Moulton (1975) yang menjelaskan bahwamicroteaching is as performance training method to isolate the component parts of the teaching process, so that the trainee can master each component one by one in a simplified teaching situation” (pembelajaran mikro pada intinya adalah suatu pendekatan atau model pembelajaran untuk melatih penampilan/ keterampilan mengajar guru melalui bagian demi bagian dari setiap keterampilan dasar mengajar tersebut, yang dilakukan secara terkontrol dan berkelanjutan dalam situasi pembelajaran). Sedangkan A. Perlberg (1984) menjelaskan bahwa micro teaching is a laboratory training procedure aimed at simplifyng the complexities of regular teaching - learning processing” (pembelajaran mikro pada dasarnya adalah sebuah laboratorium untuk lebih menyederhanakan proses latihan kegiatan belajar mengajar/pembelajaran). Sementara itu Sugeng Paranto (1980) menjelaskan bahwa pembelajaran mikro merupakan salah satu cara latihan praktek mengajar yang dilakukan dalam proses belajar mengajar yang di "mikro" kan untuk membentuk, mengembangkan keterampilan mengajar.
Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil inti dari pembelajaran mikro, kurang lebih sebagai berikut : 
  1. Micro teaching pada intinya merupakan suatu pendekatan atau cara untuk melatih calon guru dan guru dalam rangka mempersiapkan dan meningkatkan kemampuan (kompetensi) penampilan mengajarnya
  2. Sesuai namanya micro teaching, maka proses pelatihan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran mikro dapat dilakukan untuk seluruh aspek pembelajaran. Adapun dalam teknis pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan hanya memfokuskan pada bagian demi bagian secara terisolasi sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh yang akan berlatih atau sesuai dengan arahan dari supervisor.
  3. Pada saat peserta berlatih melalui pendekatan pembelajaran mikro, untuk mencermati penampilan peserta, dilakukan pengamatan atau observasi oleh supervisor atau oleh yang telah berpengalaman. Terhadap setiap penampilan peserta dilakukan pencatatan, direkam dan kemudian dilakukan diskusi umpan balik untuk mengkaji kelebihan dan kekurangan, kemudian menyampaikan saran dan solusi pemecahan untuk memperbaiki terhadap kekurangan yang masih ada dalam proses latihan berikutnya.
Salah satu Contoh Pembelajaran Micro Teaching :

Guru dengan 6 Motivasi

Membuka mata, menyentuh hati dan merangkul jiwa. Itulah peran guru dalam rangka menempa masa depan bangsa ini. Pemerintah dan masyarakat juga sudah mulai menyadari hal ini, lalu memberikan apresiasi luar biasa terhadap para guru. Salah satu buktinya adalah kenaikan anggaran di bidang pendidikan. Berdasarkan laporan terbaru Education Public Expenditure Review dari Bank Dunia (World Bank) di bawah pola pembiayaan pendidikan di Indonesia saat ini, porsi anggaran yang cukup besar dialokasikan untuk membayar gaji guru serta membiayai program sertifikasi guru. Dengan fakta di atas, tak heran pula jika sekarang ini profesi guru tidak lagi dipandang sebelah mata dan semakin diminati.
Apakah semakin banyak, semakin diminati, dan semakin sejahtera berarti semakin baik? Tunggu dulu. Jawabannya tidaklah sesederhana itu. Kita memang tidak tinggal dalam dunia yang ideal. Seringkali apa yang kita damba jauh dari apa yang nyata. Namun, ada satu hal penting yang dapat mendorong dan mempengaruhi segala tindakan yang dilakukan oleh manusia. Itulah yang kita sebut dengan motivasi. Motivasi memainkan peran penting dalam membangun integritas dan kapabilitas profesi seseorang. Hal ini juga terkait dengan keadaan dan peran para guru. Motivasi yang tepat akan menjadikan seorang guru inspirator bagi murid-muridnya. Menurut Abraham Maslow dengan teori Heararkhi kebutuhan, ada lima hal atau lima lapisan yang menjadi dasar motivasi bagi setiap orang. Dasar motivasi tersebut juga dapat menjadi dasar motivasi para guru yang mempengaruhi integeritas dalam profesinya.
Lapis pertama adalah motivasi fisiologis. Biasanya motivasi ini hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, istirahat, bersenang-senang, bahkan tujuan seksualitas. Guru yang berada pada lapis ini adalah guru yang hanya ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya saja. Ia hanya berharap mendapat gaji untuk makan dan minum. Ia hanya berharap dapat bekerja dengan cukup santai. Bahkan parahnya, ada guru yang tega menyalurkan hasrat seksual saat menjalankan tugasnya sebagai guru. Tak heran jika kita menemukan ada oknum guru yang melakukan kasus kekerasan dan pelecehan terhadap murid. Tak salah memang jika ada guru yang berada pada lapis ini, karena motivasi adalah kebebasan bagi setiap individu. Namun, kita berharap bahwa guru-guru kita tidak terjebak pada lapis ini, karena lapis ini terlalu dangkal untuk sebuah profesi yang sejatinya bisa menggapai bintang.
Lapis kedua adalah motivasi rasa aman. Motivasi ini bertujuan untuk mendapatkan rasa aman baik secara fisik maupun secara emosional. Contoh guru yang masuk kedalam kategori ini adalah  mereka yang hanya berharap menjadi PNS agar  mendapat rasa aman di masa-masa selanjutnya dengan bergantung pada dana pensiun. Sebenarnya, yang perlu menjadi perhatian kita adalah maraknya kasus penyuapan untuk menjadi seorang PNS. Kasus ini harus dijauhkan sejauh mungkin dari para guru. Seperti yang kita ketahui guru mempunyai peran yang sangat besar untuk membentuk karakter bangsa. Jika dari awal guru sudah terbentuk dengan mental penyuap dan pembohong, bagaimana mental murid yang akan dibentuk nantinya? Kita setuju bahwa ketidak jujuran bukanlah sebuah inspiriasi yang mencerahkan, melainkan sebuah alat yang menuntun kita kepada kegelapan. Para guru harus sadar bahwa di depan murid terdapat suatu jalan membentang, yang penuh penghalang. Mereka harus membantu sang murid keluar dari comfortzone atau rasa aman. Seharusnya guru harus memulai dari dirinya dahulu sebelum mengarahkan para muridnya.
Lapis ketiga adalah motivasi sosial. Motivasi ini bertujuan untuk mendapat penerimaan, status dan relasi. Tak sedikit orang yang menjadi guru hanya karena ingin mendapat status dan relasi. Terdapat beberapa kasus dimana seseorang terpaksa menjadi guru, hanya karena gagal atau tidak diterima dalam bidang lain. Istilah yang sering diberikan untuk kasus ini adalah ‘terpeleset’, karena kondisi tersebut membuat orang jatuh terpeleset sehingga guru menjadi pilihan terakhir. Ia pun tetap memperjuangkan profesi ini, sehingga ia bisa diterima dalam masyarakat luas. Memang tidak mudah menerima sesuatu yang berawal dari penolakan. Akan tetapi, seharusnya hal ini tidak membuat guru berhenti pada lapis ini. Menjadi guru bukan hanya sebuah status melainkan sebuah anugerah dan panggilan hidup.
Lapis keempat adalah motivasi penghargaan. Motivasi ini bertujuan untuk mendapatkan penghargaan baik secara internal maupun eksternal. Bisa dibilang guru yang ada dilapis ini adalah guru yang penuh semangat dan kontribusinya dalam dunia pendidikan adalah nyata. Motivasi ini juga sedang bermekaran di Indonesia karena pemerintah sedang memberi pupuk stimulus yang disebut dengan sertifikasi.  Kesejahteraan guru terus pun terus ditingkatkan melalui tunjangan sertifikasi. Akan tetapi, program peningkatan kesejahteraan tersebut bisa menjadi bumerang. Hal ini membuat guru bukan semakin tinggi mengabdi tetapi malah materialistis. Ini berarti guru justru kembali ke lapis satu yaitu motivasi fisiologis. Jangan sampai program sertifikasi malah membuat guru terjebak dalam belenggu tersebut. Perlu diingat bahwa indikator keberhasilan guru adalah siswa. Sejauh ini program peningkatan kualitas guru terus dilakukan, tetapi belum terlihat adanya peningkatan kualitas murid secara signifikan. Keadaan ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para guru.
Lapis kelima adalah motivasi aktualisasi diri. Motivasi ini bertujuan untuk mengekspresikan diri dan menggali potensi. Guru pada lapis ini bisa dibilang akan memberikan segala yang terbaik dalam rangka menunjukan dirinya. Baginya menjadi guru adalah cita-cita dan tujuan hidupnya. Ini adalah motivasi yang membuat guru menjadi tangguh dalam menghadapi segala rintangan ditengah arus zaman maupun sistem pendidikan yang cukup membingungkan. Motivasi ini yang mendorong para guru untuk terus berinovasi walaupun sering kali terbatas oleh kurikulum-kurikulum yang ada. Mereka juga tidak akan pernah berhenti menjadi murid, karena mereka akan terus belajar sekalipun menjadi seorang guru.
Motivasi-motivasi diatas telah mewakili berbagai motivasi guru. Namun, sebenarnya masih ada satu motivasi yang penting untuk dimiliki oleh semua guru. Motivasi ini begitu sederhana, menginspirasi, dan membuat seseorang akan terus berjuang dengan cara-cara yang positif. Motivasi inilah yang disebut dengan motivasi cinta.
Saat ini adalah era globalisasi dimana segala sesuatunya dapat diakses dengan mudah melalui segala teknologi yang ada. Peran guru pun dengan mudah  tergeser dengan berbagai macam media dan fasilitas yang semakin maju. Para siswa bisa mendapat pengetahuan yang luas, mudah dan terbaru melalui internet dan gadget yang canggih. Akan tetapi, ada satu hal yang sebenarnya tak akan pernah bisa digantikan oleh  teknologi apa pun. Itulah sisi manusia dari seorang guru, manusia yang penuh cinta. Guru bukan hanya sekedar mesin fotocopi yang menyalin seluruh ilmunya kepada sang murid.
Guru dengan motivasi cinta akan terus membangun rasa emosional dengan murid supaya murid semangat untuk terus belajar. Dunia sekarang ini adalah dunia yang jahat. Tingkat persaingan semakin tinggi. Masalah yang dihadapi para siswa bukan lagi hanya sebatas materi dalam textbook, melainkan perjuangan untuk melawan dunia yang jahat ini. Inilah salah satu peran guru yang tak dapat digantikan oleh berbagai macam teknologi yang ada. Disini guru diuji kemampuanya untuk terus mendorong para muridnya untuk terus maju. Ia harus terus menginspirasi para siswanya untuk mengubah dunia yang jahat ini menjadi tempat yang indah dan penuh kedamaian.
Guru yang penuh cinta tidak hanya mengajar dengan mulut tetapi dengan hati. Mereka tidak hanya berbicara panjang lebar di depan siswa menggunakan alat tulis. Mereka tidak hanya bangga dengan siswa-siwa yang mendapat nilai tinggi, disiplin belajar,  rapi, dan hafal semua materi yang ada. Walaupun Ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi merupakan ujian rumus dan materi, guru dengan motivasi cinta biasanya sadar bahwa  pusat pembelajaran tidak hanya ada di kepala manusia (brain memory). Bagi  mereka  memori tak hanya ada di kepala melainkan ada di jiwa dan seluruh tubuh manusia. Guru ini tidak hanya sekedar mengeajarkan soft skill dan hard skill, tetapi juga mengajarkan tentang life skill. Mereka  biasanya toleran dan  tahu benar bagaimana caranya menghadapi karakter murid yang berbeda-beda. Cinta selalu membuat mereka mengerti. Mereka tidak akan memaksa semua murid untuk jadi yang terbaik dengan kemampuan yang sama. Yang dilakukan oleh guru motivasi cinta adalah menemukan setiap perbedaan yang ada pada muridnya dan mengembangkan perbedaan itu menjadi potensi yang baru.
Contoh guru yang mengajar dengan motivasi cinta ada dalam film animasi kungfu panda. Saat itu Master Shifu sangat bingung untuk mengajari muridnya yaitu Po. Bahkan semua orang tidak yakin bahwa seorang panda gemuk dan gembul, bisa menjadi seorang pendekar dan menyelamatkan banyak orang. Kemampuannya pun jauh dibawah murid-muridnya yang lain. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Po si Panda hanyalah makan dan membuat mie. Akan tetapi, master Shifu masih terus mengingat perkataan gurunya yaitu Master Oogway yang masih membekas dalam hatinya. Master Oogaway berkata, “Tidak ada yang tidak mungkin. Kamu hanya harus percaya.”  Master Shifu  pun tidak berputus asa. Bahkan, akhirnya ia berhasil mengajari Po teknik kungfu dengan menggunakan teknik-teknik makan dan membuat mie. Cara yang unik, tetapi hasilnya luar biasa. Karena akhirya Po bisa menjadi Pendekar Naga dan mampu mengalahkan  Tai Lung sang penjahat yang kabur dari penjara.
Kita berharap bahwa setiap guru mempunyai jiwa seperti Master Oogway dan Master Shifu. Mereka tahu benar kekurangan dan kelebihan muridnya. Hal ini memudahkan mereka untuk menggali dan mengembangkan potensi sang murid. Guru motivasi cinta tidak hanya sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka. Pendidikan adalah sebuah seni. Seni untuk meyulut ide dan mengembangkannya. Semoga setiap guru penuh dengan motivasi cinta, sehingga mereka mampu menulis ilmu di papan tulis kehidupan dan tak akan bisa dihapus oleh waktu.

Tiuruli Sitorus
Diikutkan dalam lomba menulis ‘Sang Guru’ yang diadakan oleh lembaga nirlaba Indonesia Menulis periode 31 Mei 2013

Kamis, 09 April 2015

KURIKULUM LPTK SEBAGAI ‘RESEP’ MEMBENTUK GURU

Derajat peradaban suatu bangsa selalu dikaitkan dengan kualitas pendidikan pada bangsa tersebut. Hal ini karena pendidikan memang memegang peran vital pada pembentukan karakter pribadi-pribadi dalam suatu bangsa. Karakter pribadi seseorang akan menentukan derajat peradaban orang tersebut yang pada akhirnya menentukan derajat peradaban suatu bangsa. Majunya suatu Negara ditentukan oleh majunya pendidikan bangsa pada negara tersebut.
Begitu strategisnya peran pendidikian pada suatu negara sehingga konsep, proses dan sistem pendidikan serta implementasinya harus berjalan dengan kualitas terbaik. Dalam konteks Negara kita Indonesia ketika berbagai ketertinggalan melanda berbagai aspek kehidupan termasuk terdegradasinya nilai-nilai moral ‘oknun’ warga negara, maka semua pandangan tertuju pada pendidikan, ada apa dengan pendidikan kita ?
Kemudian pandangan dan pertanyaan tersebut berlanjut kearah unsur-unsur dalam penyelenggaraan pendidikan, siapa pelaku utama dalam upaya ‘transform knowledge’ terhadap pribadi-pribadi bangsa ini ? Bagi mereka yang tidak mau tahu tentang kompleksnya penyelenggaraan pendidikan pada suatu Negara, dengan mudah akan langsung menunjuk ujung tombak dari implementasi konsep, proses dan sistem pendidikan itu yaitu guru. Tanpa mempertimbangkan bagaimana proses yang harus dijalani seseorang agar menjadi guru dan proses yang harus dijalaninya sebagai seorang guru. Memang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ketika misalnya ada yang beranggapan seperti itu. Karena senyatanya gurulah yang langsung berhadapan dengan warga sebagai ‘petugas’ pada lembaga formal pendidikan yaitu sekolah yang merupakan instrumen negara dalam bidang pendidikan.
Tapi sesungguhnya ketika kita objektif dalam pandangan dan memberikan pertanyaan serta memilih jawaban untuk permasalahn pendidikan maka tidak semudah kita langung menunjuk guru sebagai yang paling bertanggung jawab. Ada banyak hal lain termasuk didalamnya pengambil kebijakan, anggaran, sarana fisik maupun non fisik dan lain-lain yang begitu kompleks dengan berbagai pemasalahannya masing-masing. Dalam kaitannya dengan hal ini yang penting juga untuk kita perhatikan adalah peran strategis dari ruh pendidkan itu sendiri yaitu kurikulum.
Kenapa kurikulum ? karena kurikulum seungguhnya adalah ‘resep’ untuk membuat produk dari pendidikan. Guru adalah juga produk dari sebuah proses pendidikan yang menggunakan ‘resep’ kurikulum dalam ‘membuat’nya. Dalam hal ini ‘dapur’nya adalah LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidkan). Dengan demikian derajat kualitas guru yang dihasilkan sangat tergantung dengan kurikulum yang diterapkan oleh LPTK itu sendiri. Sehingga ketika ada hal permasalahan terkait kualitas guru maka sesungguhnya peran strategis pengembangan kurikulum LPTK (FKIP, IKIP dan STKIP) sebagai elemen proses pendidikan untuk melahirkan calon guru yang berkualitas patut dipertanyakan. Lahirnya UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah dengan jelas mengamanatkan bagaimana seharusnya profil guru dengan 4 (empat) kompetensi utamanya (pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian). Belum lagi tuntutan dan amanat sederet UU dan peraturan serta ketentuan lainnya yang terkait dengan pendidikan termasuk pendidikan tinggi dimana LPTK menjadi bagian didalamnya. Sudahkah kurikulum yang dijalankan LPTK saat ini menjawab tuntutan dan amanat dari berbagai UU, peraturan dan ketentuan tersebut ? Sehingga menjadi sebuah keniscayaan bagi LPTK untuk me-redesign kurikulum yang akan diterapkannya dalam rangka ‘resep membuat’ guru. Pada titik ini sungguh semakin terasa bahwa LPTK memiliki peran sentral dalam peningkatan kualitas guru.  Dan ‘resep’nya adalah kurikulum.

Kurikulum
Begitu banyak literatur terkait definisi tentang apa itu kurikulum, tapi paling tidak kita bisa mengacu pada satu definisi kurikulum yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UU SPN No. 20/2003)
Definisi tersebut mengandung dua dimensi arti yaitu kurikulum dalam ruang lingkup yang luas dan kurikulum dalam ruang lingkup yang lebih sempit. Dalam ruang lingkup yang luas kurikulum diartikan sebagai program pembelajaran pada suatu jenjang pendidikan. Sedangkan dalam ruang lingkup yang lebih sempit kurikulum diartikan sebagai program pembelajaran  untuk satu mata pelajaran/mata kuliah. Sehingga untuk konteks pembelajaran  terkait matakuliah kurikulum ‘Mata Pelajaran X’ misalnya pada LPTK pemahamannya adalah bahwa itu kurikulum dalam ruang lingkup sempit yaitu program pembelajaran untuk satu ‘Mata Pelajaran X’ saja. Tentu sangat berbeda cakupan pembahasannya baik dari segi waktu dan lain-lain jika dibandingkan dengan misalnya Kurikululum SD, Kurikulum SMP yang merupakan kurikulum jenjang pendidikan dasar atau kurikulum SMA/SMK/MA yang merupakan jenjang pendidikan menengah atas apalagi misalnya dbandingkan cakupan pembahasannya dengan kurikulum  Program Studi Pendidikan Olahraga yang merupakan jenjang S1. Hal ini karena kurikulum SD, SMP, SMA/SMK/MA, S1, S2 dan S3 itu merupakan program pembelajaran pada suatu jenjang pendidikan yang dipahami sebagai kurikulum dalam arti ruang lingkup yang lebih luas.
Baik dalam ruang lingkup yang luas maupun yang sempit  kurikulum merupakan rancangan yang menggambarkan pola organisasi dari komponen-komponen  kurikulum yaitu tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian, media pembelajaran dan evaluasi, disertai juga dengan unsur-unsur penunjang lainnya.
           
Perkembangan Kurikulum LPTK
Hingga saat ini paling tidak kita bisa mengelompokkan 5 (lima) era kurikulum LPTK yaitu : (1) era sebelum tahun 1970; (2) era tahun 1970an; (3) era tahun 1990an; (4) era tahun 2000an; dan (5) yaitu era sekarang yang  ditandai dengan beberapa UU, Peraturan dan Ketentuan terkait LPTK antara lain misalnya Permendikbud tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Naisonal Indonesia (KKNI) Bidang Pendidikan Tinggi, tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) dan tentang Standar Nasional Pendidikan Guru (SNPG).
Pada era sebelum tahun 1970 kurikulum LPTK menekankan pada calon guru profesional Dengan sistem : Concurrent/Terintegrasi  yaitu kompetensi akademik kependidikan, bidang studi & jati diri bangsa Indonesia (MKDU, MKDK, MKPBS, MKPBM) yang meliputi elemen nasionalisme, elemen pedagogik, elemen ilmu jiwa umum dan ilmu jiwa untuk mendidik, elemen didaktik metodik, elemen bidang yang diajarkan dan elemen Praktek Pengalaman Lapangan (PPL).
Kurikulum LPTK tahun 1970an menekankan pada 5 (lima) rumpun mata kuliah yaitu Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK), Mata Kuliah Penguasaan Bidang Studi (MKPBS), Mata Kuliah Proses Belajar Mengajar (MKPBM), dan Mata Kuliah Ciri Fakultas (MKCF). Pada era ini pendekatan kurikulum penekanan nya masih sama dengan kurikulum era sebelumnya.
Era tahun 1990an kurikulum ditekankan pada topik inti (content based curriculum, sehingga terkenal dengan Kurikulum Berbasis Isi. Pada era ini pengelompokan rumpun mata kuliah meliputi Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK), Mata Kuliah Keahlian (MKK) dan  Mata Kuliah Ciri Fakultas (MKCF).
Memasuki era 2000an kurikulum LPTK mengalami perubahan yang cukup signifikan ditandai dengan lahirnya UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), serta UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mengamanatkan 4 (empat) kompetensi guru yaitu (1) pedagogik, (2) profesional, (3) sosial, dan (4) kepribadian. Pada era ini penekanan kurikulum pada kompetensi yang harus dicapai sehingga dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) meliputi kompetensi utama dan kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya. Pada KBK di kenalkan juga istilah Kurikulum Inti dan Kurikulum Institusional mengacu UNESCO (1997): The Four Pilars of  Education. Rumpun mata kuliah pada KBK terdiri atas Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).
Kurikulum LPTK era saat sekarang ini dikenal dengan kurikulum pendidikan tinggi yang bermula awalnya ditandai dengan lahirnya Permendiknas No. 8 tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra-Jab, PP nomor 66 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, UU nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, PP nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan; Perpres nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Permendikbud nomor 73 tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Bidang Pendidikan Tinggi, Permendikbud nomor 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Permendikbud tentang Standar Nasional Pendidikan Guru (SNPG). Dengan pengelompokan rumpun mata kuliah menjadi Kelompok Mata Kuliah Umum (MKU), Kelompok Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK), Kelompok Mata Kuliah Bidang Keahlian dan Penunjang (MKBK) yang dapat dijabarkan dengan pemisahan Kelompok Mata Kuliah Pilihan (MKP) dan Kelompok Mata Kuliah Keterampilan Proses Pembelajaran (MKKP) yang dapat dijabarkan dengan pemisahan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Pendidikan (MKPP).
Dengan berbagai regulasi tersebut LPTK harus menyesuaikan kurikulumnya melaui penyusunan kembali kurikulum yang mengacu pada KKNI, SNPT dan SNPG. Nilai tambah yang ingin di sematkan pada kurikulum LPTK yang mengacu pada KKNI, SNPT dan SNPG ini tidak lain  adalah pencapaian kualifikasi kompetensi lulusan sesuai profil guru yang diamanatkan undang-undang sehingga kurikulum yang diterapkan benar-benar mengarah pada pencapaian visi dan misi baik program studi maupun institusi.
Berdasarkan perkembangan kurikulum LPTK satu hal yang pasti tidak berubah bahwa kurikulum LPTK semua era menekankan pada penguasaan kompetensi  pedagogik dan didaktik metodik mata pelajaran yang nantinya akan diajarkan saat menjadi guru. Kompetensi pedagogik dan didaktik metodik ini merupakan salah satu kompetensi utama yang harus dicapai oleh mahasiswa calon guru. Pada kurikulum LPTK yang mengacu KKNI, SNPT dan SNPG mahasiswa harus diberi porsi yang lebih untuk membekali agar mahasisswa menguasai kompetensi pedagogik dan didaktik metodik yang dituangkan melalui matakuliah tersendiri yang bersifat khusus bukan menjadi sempalan sub pokok bahasan pada mata kuliah yang lain.
Bagi Mahasiswa LPTK, misalnya saja untuk rumpun Mata Kuliah Bidang Keahlian (MKBK), sebagaimana diketahui bahwa selain mahasiswa harus menguasai keterampilan (skill) bidang keahlian dari mata kuliah tersebut, mahasiswa juga harus menguasai pedagogik dan  didaktik metodik dalam mengajarkan keterampilan (skill) keahlian dari mata kuliah tersebut ke murid-muridnya saat menjadi guru nantinya. Hal ini mempertegas bahwa pentingnya kedudukan mata kuliah pedagogik  sebagai dasar kependidikan dan  mata kuliah didaktik metodik sebagai bekal bagi mahasiswa agar menguasai keterampilan proses pembelajaran. Untuk hasil yang lebih baik sesungguhnya keterampilan (skill) dari setiap mata kuliah pada  rumpun MKBK harus ada mata kuliah didaktik metodiknya, namun hal ini tentu tidak bisa dilakukan karena menyangkut beban studi yang terbatas yang harus ditempuh mahasiswa. Oleh karenanya dipilih dan dikelompokkan mata kuliah-mata kuliah dengan keterampilan (skill)  yang sejenis untuk diberikan mata kuliah didaktik metodiknya. Jadi ketika mahasiswa belajar misalnya mata kuliah X maka penekanan utamanya adalah fokus pada penguasaan keterampilan (skill) pada mata kuliah X tersebut. Sedangkan untuk mahasiswa agar menguasai bagaimana cara mengajarkan keterampilan (skill) pada mata kuliah X tersebut,  melalui mata kuliah didaktik metodik X yang penekanan utamanya memang fokus pada cara mengajarkan  keterampilan (skill) pada mata kuliah X tersebut. Penguasaan mahasiswa terhadap kompetensi pedagogik dan didaktik metodik ini dikongkritkan dengan kegiatan magang 1, 2 dan 3 di sekolah-sekolah sesuai amanat SNPG.    
Dengan demikian amanat UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menetapkan 4 (empat) kompetensi guru (pedagogik, professional, sosial dan  kepribadian) dapat dibekali LPTK kepada para mahasiswanya melalui kurikulum yang mengacu KKNI, SNPT dan SNPG. Desain kurikulum semacam ini merupakan penyelarasan kurikulum program studi S1 Pendidikan dengan kurikulum program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Kondisi ini tentu memudahkan bagi mahasiswa untuk memperoleh sertifikasi guru pada PPG yang nantinya diikuti.

Implikasi Kurikulum LPTK mengacu KKNI, SNPT dan SNPG
            Kurikulum LPTK yang mengacu KKNI, SNPT dan SNPG pada implementasinya dalam pembelajaran untuk calon guru mempunyai implikasi Trickle Down Effect, yang bermakna bahwa pembelajaran oleh dosen LPTK akan mempunyai dampak yang tersebarluaskan sehingga tugas dosen menjadi sangat strategis, di samping mendidik, mengajar, menggali potensi mahasiswa, ia pun bertindak sebagai model rujukan bagi calon guru masa kini dan masa depan, agar diperoleh keluaran yang kompeten dan profesional.
            Implikasi lain bahwa struktur kurikulum pendidikan akademik untuk calon guru yang disusun mengacu KKNI, SNPT dan SNPG telah menempatkan pemajanan awal (early exposure) bagi mahasiswa calon guru,  yaitu pemberian pengalaman sedini mungkin kepada calon guru dengan magang atau internship di sekolah secara berjenjang. Dalam konteks ini pedagogi dan didaktik metodik dipahami sebagai konsep yang merujuk pada dua aspek belajar yaitu berkaitan dengan apa dan bagaimana peserta didik  belajar; dan berkaitan dengan  bagaimana (calon) guru sebagai pembelajar belajar tentang mengajar dan membentuk keahliannya sebagai seorang profesional
            Pada akhirnya implikasi yang sangat di harapkan adalah bahwa guru yang dihasilkan dari penerapan kurikulum LPTK mengacu KKNI, SNPT dan SNPG ini mampu bertahan dan memenangkan kompetisi bidang pendidikan paling tidak di negara kita sendiri mengingat pada  tahun 2015 ini mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan guru-guru yang berasal dari negara-negara ASEAN bekerja/mengajar di sekolah-sekolah kita begitu juga sebaliknya.
            Harapannya dengan kualitas guru yang baik kita bisa merasakan berkah demografi negara kita Indonesia. Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam rentang tahun 2010 – 2045, Indonesia mendapatkan berkah demografi. Pada tahun 2010 penduduk Indonesia dalam rentang usia 0-9 tahun mencapai 45.9 juta, sementara usia 11-19 tahun mencapai 43.55 juta. Hal ini berarti dalam rentang tahun 2010-2045 jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif sangat melimpah. Merekalah generasi emas yang bakal menjadi generasi penerus bangsa ini yang akan mengangkat derajat peradaban bangsa ke tingkat tertinggi dan mengantarkan republik ini menjadi negara maju. Keberhasilam mereka di masa depan sangat tergantung pada pendidikan saat ini. Mutu Pendidikan sangat ditentukan oleh guru-guru yang bermutu. Guru-guru yang bermutu sangat ditentukan oleh proses pendidikan di LPTK. LPTK yang bermutu adalah LPTK dengan kurikulum bermutu sebagai ‘resep’ dalam membuat dan menghasilkan guru-guru yang bermutu. Insha Allah. Aamiin.

Oleh :
Edy Mastoni, M.Pd.
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung
Sekretaris Asosiasi Program Studi Pendidkan Olahraga LPTK PTM se-Indonesia