::: PENGUMUMAN : BAGI MAHASISWA YANG INGIN MENGIKUTI STUDI PEMBELAJARAN LUAR DAERAH SEGERA UNDUH FORMULIRNYA ::: BAGI CALON MAHASISWA GELOMBANG I YANG TELAH LULUS SELEKSI SARINGAN MASUK UNTUK SEGERA MENDAFTAR ULANG ::: INFO LEBIH LANJUT DAPAT MENGHUBUNGI DI NO.HP 0877 74984823 ( Desfa Kusmaliana, S.Pd.I ), 0813 67710993 ( Gatot Afrianto, S.Sos.I ) ATAU DATANG LANGSUNG KE KAMPUS STKIP MUHAMMADIYAH BANGKA BELITUNG PADA JAM KERJA 07.30 s.d 16.30 WIB DI SEKRETARIAT PMB DAN PUSAT INFORMASI DENGAN BERPAKAIAN SOPAN PANTAS (TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN BAJU KAOS, SANDAL, CELANA PENDEK) :::
Featured Post Today
print this page
Latest Post

PENGUMUMAN Studi Pembelajaran Luar Daerah

PENGUMUMAN

Diberitahukan Kepada Mahasiswa Program Studi Penjaskesrek dan PGSD.
Bahwa STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung akan mengadakan Studi Pembelajaran Luar Daerah. Untuk itu bagi Mahasiswa yang berminat segera mendaftar dengan membawa formulir Kesediaan Mengikuti Studi Pembelajaran Luar Daerah pada Bagian Akademik yang telah ditanda tangani oleh Orang tua/Wali.

Silahkan Unduh Formulir Kesediaan Mengikuti Studi Pembelajaran  DISINI

    NB :
  • Untuk Penetapan Besaran Biaya Studi Pembelajaran Luar Daerah akan di umumkan kembali di Website STKIP MBB dan di papan pengumuman kampus. 
  • Info lebih lanjut dapat menghubungi Bagian Akademik
0 komentar

AYO IKUTI STADIUM GENERAL Pembicara "Drs. Zulkarnain Karim, M.M"

SELAMAT PAGI ...

Diumumkan kepada Mahasiswa/i Program Studi PGSD diharapkan mengikuti WAJIB mengikuti Kegiatan ini. Disamping menambah pengetahuan serta pengalaman bagi mahasiswa itu sendiri, akan diberikan Sertifikat untuk para Mahasiswa/i yang sudah berpartisipasi mengikuti kegiatan ini.

Tetapi tidak menutup kemungkinan Mahasiswa/i dari Program Studi Penjaskesrek untuk dapat mengikuti kegiatan ini.


0 komentar

PENGUMUMAN HASIL TES SARINGAN MASUK GEL .I TAHUN 2014/2015



 HASIL TES SARINGAN MASUK CALON MAHASISWA BARU
 TAHUN 2014/2015 GELOMBANG I


Bagi Peserta Ujian yang telah dinyatakan LULUS baik tertulis dan Jalur PMDK di wajibkan untuk Herregistrasi (Daftar Ulang). silahkan Unduh Hasil Tes dan PMDK di bawah ini :

Untuk Jalur Reguler dapat di unduh disini

Untuk Jalur PMDK dapat di unduh disini


Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi Bagian Informasi :
Telp : 0717-431771
0877 74984823 ( Desfa Kusmaliana, S.Pd.I )
0813 67710993 ( Gatot Afrianto, S.Sos.I )
 
0 komentar

Istilah-istilah di dunia kampus

Bagi calon mahasiswa baru mungkin masih bingung dengan berbagai istilah-istilah yang ada di perguruan tinggi. Wajar saja istilah-istilah sistem pendidikan di SMA berbeda dengan di perguran tinggi. Semisal SKS, IPS, IPK, dan lain sebagainya.

Berikut istilah-istilah di perguran tinggi yang harus ada ketahui :

SKS
SKS adalah singkatan dari Satuan Kredit Semester. Tidak seperti di SMA di mana semua pelajaran sudah dipaketkan hingga lulus, di perguruan tinggi, dengan SKS memungkinkan mahasiswa memilih sendiri mata kuliah yang akan diambil dalam satu semester. Tapi, untuk mahasiswa baru di kampus ini, saat semester pertama biasanya sudah diberikan satu paket mata kuliah, antara 21-23 SKS.

Untuk lulus hingga S-1, Anda membutuhkan sekira 144-160 SKS, sementara untuk program diploma diperlukan 110-120 SKS. Setiap mata kuliah memiliki bobot SKS berbeda. Ada mata kuliah yang berbobot satu,dua, tiga, maupun empat SKS. Jumlah SKS yang dapat diambil masing-masing mahasiswa di tiap semester juga bisa jadi tidak sama, mulai 16 hingga 24 SKS. Batasan yang diberikan pihak kampus mengenai SKS yang harus diambil tiap semester berkaitan erat dengan Indeks Prestasi Semester (IPS) yang Anda raih di semester sebelumnya.

KRS
Apa itu KRS? KRS adalah singkatan dari Kartu Rencana Studi. Umumnya, seluruh perguruan tinggi di Indonesia memakai istilah ini, namun adapula yang menyebut Kartu Perencanaan Studi Mahasiswa (KPSM) maupun Formulir Rencana Studi (FRS). KRS merupakan rekaman mengenai mata kuliah yang diambil dalam satu semester. Anda dapat merencanakan sendiri mata kuliah yang akan kamu ambil di semester tersebut dengan berkonsultasi dengan dosen wali atau Dosen Penasehat Akademik.
Di beberapa perguruan tinggi saat ini, KRS berbentuk lembaran kertas formulir konvensional, online, atau kombinasi keduanya. KRS manual atau konvensional yang telah disetujui oleh dosen wali dapat segera kamu berikan ke sekretariat maupun Biro Administrasi dan Akademik Kemahasiswaan (BAAK). Sementara untuk yang menggunakan sistem online, kamu hanya perlu memasukan KRS manual ke akun kemahasiswaan milikmu sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Dosen Wali
Di beberapa perguruan tinggi di Indonesia juga menggunakan istilah Dosen Wali, dan di sebagian yang lain menggunakan istilah Dosen Penasehat Akademik. Pada dasarnya sama saja, Dosen Wali atau Penasehat Akademik memiliki tugas yang sama, mereka adalah dosen yang ditunjuk oleh pihak kampus sebagai pembimbing bagi mahasiswa mengenai permasalahan yang dihadapi mahasiswa selama aktif studi, juga memberi saran dan pertimbangan mengenai apa saja mata kuliah yang seharusnya diambil pada semester aktif.

IPS
Indeks Prestasi Semester atau IPS, atau cukup disingkat dengan IP, ini adalah hasil rerata nilai prestasi tiap-tiap mata kuliah dalam satu semester. IP bisa dilihat di Kartu Hasil Studi atau KHS, yaitu seperti raport semesteran mirip seperti saat sekolah SMA dulu, hanya saja bentuknya yang berbeda berupa selembar kertas berisi nilai huruf yang dikeluarkan pihak kampus.

IPK
IPK, singkatan dari Indeks Prestasi Kumulatif, berisi catatan prestasi tiap-tiap mata kuliah selama menempuh studi, dari semester pertama sampai terakhir. Ibarat nilai rapor saat duduk di bangku SMA. Nilai IPK mulai dari 1,00 (satu koma nol nol) hingga 4,00 (empat koma nol nol). Jika mampu konsisten meraih IP 3,5 di setiap semester hingga lulus, maka Anda akan dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi dengan predikat cumlaude.

Penilaian
Sistem penilaian di perguruan tinggi menggunakan abjad. Nilai tertinggi yang setara dengan nilai 9-10 setara dengan A sementara nilai terendah biasa disetarakan dengan nilai E. ( A=4, B=3, C=2, D=1, E=0)

UTS dan UAS
Tidak ubahnya dengan SMA, perguruan tinggi juga menggunakan sistem Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Biasanya, bobot penilaian yang ditetapkan bagi UTS dan UAS diserahkan kepada masing-masing dosen, karena dosen lebih tahu bagaimana proses mahasiswa mengikuti perkuliahan dari awal hingga akhir. Penilaian akhir ditetapkan berdasarkan pembobotan nilai UTS dan UAS, adapula yang dihitung berdasarkan pembobotan presensi Kuliah, Tugas, Quis, UTS, dan UAS.

SEMESTER
Semester Reguler
adalah satuan waktu kegiatan akademik yang terdiri atas 16 (enam belas) minggu kuliah atau kegiatan terjadwal lainnya secara efektif termasuk 2 (dua) minggu kegiatan penilaian, berikut kegiatan iringannya.

Semester Pendek
1. Semester Pendek adalah semester tambahan yang ditawarkan oleh program studi atas dasar kebijakan akademik fakultas. Semester Pendek tidak harus diambil oleh semua mahasiswa.
2. Kegiatan perkuliahan untuk Semester Pendek adalah kegiatan akademik yang setara dengan kegiatan 1 (satu) semester, yang dilaksanakan selama minimum 8 (delapan) minggu efektif.

Istilah-istilah lainnya:

Perguruan tinggi
Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen. Di Indonesia, perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, institut, politeknik, sekolah tinggi, dan universitas. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi,dan vokasi dengan program pendidikan diploma (D1, D2, D3, D4), sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3), dan spesialis.

Institut
Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

Universitas
Suatu institusi pendidikan tinggi dan penelitian, yang memberikan gelar akademik dalam berbagai bidang. Sebuah universitas menyediakan pendidikan sarjana dan pascasarjana. Kata universitas berasal dari bahasa Latin universitas magistrorum et scholarium, yang berarti “komunitas guru dan akademisi”.

Sekolah Tinggi
Pendidikan di Indonesia adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

Akademi
Suatu institusi pendidikan tinggi, penelitian, atau keanggotaan kehormatan. Nama ini berasal dari sekolah filsafat Plato yang didirikan pada sekitar tahun 385 SM di Akademia, sebuah tempat suci Athena, dewi kebijaksanaan dan kemampuan, di sebelah utara Athena, Yunani. Akademi dalam pendidikan di Indonesia merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas. Akademi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu.

Politeknik
Sering disamakan dengan institut teknologi adalah penamaan yang digunakan dalam berbagai institusi pendidikan yang memberikan berbagai jenis gelar dan sering beroperasi pada tingkat yang berbeda-beda dalam sistem pendidikan. Politeknik dapat merupakan institusi pendidikan tinggi dan teknik lanjutan serta penelitian ilmiah ternama dunia atau pendidikan vokasi profesional, yang memiliki spesialiasi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknik, dan teknologi atau jurusan-jurusan teknis yang berbeda jenis. Istilah tersebut juga dapat merujuk pada sekolah pendidikan menengah yang berfokus pada pelatihan vokasional.

Istilah politeknik berasal dari bahasa Yunani πολύ (polú atau polý) yang berarti “banyak” dan τεχνικός (tekhnikós) yang berarti “seni”. Istilah institut teknologi, untuk bagiannya, sering disingkat IT; istilah ini berbeda dengan teknologi informasi.

Politeknik dalam pendidikan di Indonesia merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, institut, sekolah tinggi, dan universitas. Politeknik menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus.[wikipedia]
0 komentar

STKIP MBB Uji Mahasiswa Baca Alquran


Untuk mengetahui wawasan dan kemampuan keagamaan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan dan Keguruan Muhammadiyah Bangka Belitung (STKIP MBB) melakukan Placement Test Agama (PTA) bagi 228 mahasiswa. Sabtu (15/6)

Pelaksanaan PTA ini bagi mahasiswa menjadi salah satu prasyarat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan uji skripsi. PTA juga menjadi salah satu program pembinaan mahasiswa.

Ketua STKIP MBB, Asyraf Suryadin menyatakan PTA merupakan tes pengelompokkan bagi mahasiswa terkait bacaAlquran dan praktik ibadah.

"Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui wawasan atau kemampuan keagamaan mahasiswa, sehingga nantinya dapat dikelompokkan sesuai tingkat keagamaan yang mereka miliki", paparnya.

Hasil PTA ini dikategorikan kedalam dua tingkatan, yaitu Bina dan Mandiri. "Kita lakukan kegiatan ini karena mengingat latar belakang mahasiswa yang beragam, sehingga wawasan keagamaannya pun menjadi bermacam-macam," tambahnya.

Setelah mahasiswa dikelompokkan akan dilakukan pembinaan keagamaan secara kontinu. " Ini sesuai amanah bahwa bagi yang beragama Islam, STKIP MBB tidak akan melepas calon sarjananya hingga mereka dapat membaca Alquran dan praktik ibadah dengan baik", jelasnya.

Bagi mahasiswa yang tidak bisa membaca Alquran, STKIP MBB melakukan pembinaan melalui program tilawah. "inilah ciri khas dari Muhammadiyah akan kita ajarkan kembali membaca Alquran dan kita ingatkan ibadahnya. Sedangkan bagi mereka yang telah mampu membaca Alquran juga akan dilakukan pembinaan dengan program kajian ke-Islaman mendalam", tambahnya.
0 komentar

Kampus STKIP MBB Bebas Narkoba

Pada tanggal 30 April 2013 yang lalu kampus STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung kedatangan petugas dari BBN Provinsi Bangka Belitung, yang bertujuan melakukan sosialisasi bahaya narkoba sekaligus melakukan tes urine kepada mahasiswa STKIP MBB.

Dari hasil tes urine yang dilakukan, tak satupun mahasiswa STKIP MBB terindikasi narkoba. Demikian salah satu poin surat dari BNNP Babel Nomor R/137/V/2013/BNNPBABEL, tanggal 2 Mei 2013 tentang pemberitahuan hasil tes urine yang dilakukan oleh BNNP Babel tanggal 30 April 2013.

Hal ini disampaikan oleh Ketua STKIP MBB Dr.Asyraf Suryadin, M.Pd dalam presrilis bertempat di Bangka Pos (Kamis 9 Mei 2013). "Alhamdulilah kampus kita terbebas dari narkoba. Saya ucapkan terimakasih dengan BNNP Babel telah berkenan melaksanakan test urine ini. Sehingga kita benar-benar tahu bahwa kampus ini benar-benar terbebas dari narkoba," papar Ketua STKIP MBB.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa selama ini kampus STKIP MBB sudah ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok, sehingga mahasiswa dan pegawai dilarang merokok dalam area kampus. " Kita inikan kampusnya berbasis pendidikan dan sudah semestinya harus terbebas dari narkoba, dan juga rokok karena nantinya mereka juga sebagian mungkin akan menjadi guru dan kita harapkan tidak merokok karena anak-anaknya dilarang merokok. Jadi sudah semestinya harus menjadi panutan baik dalam teori maupun praktek.
0 komentar

TAWURAN PELAJAR: BUKAN SALAH MATA PELAJARAN

Sungguh ironi kondisi pendidikan Nasional saat ini, kurang lebih satu minggu belakangan gencar diberitakan di media mengenai tawuran pelajar SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi. Tawuran pelajar yang baru-baru ini terjadi di Jakarta sampai memakan korban jiwa. Walaupun kedua sekolah telah berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut, akan tetapi sulit diprediksi apakah tawuran pelajar ini tidak akan terulang kembali dimasa yang akan datang mengingat intensitas tawuran pelajar ini hampir setiap tahun terjadi. Suka atau tidak suka, inilah potret buram pendidikan kita saat ini yang kurang mampu memberikan layanan pendidikan khususnya yang berkaitan dengan aspek pengembangan kepribadian siswa. Institusi sekolah seharusnya tidak hanya menjadi alat pembebasan manusia dari kebodohan, tetapi lebih dari itu untuk menghantarkan manusia menjadi mahluk yang bermartabat. Adanya konflik horizontal ini praktis mengubah wajah dan kesan masyarakat Indonesia yang dulunya ramah-tamah menjadi bangsa yang tidak memiliki stabilitas emosi dan budi pekerti.

Titik Lemah Pendidikan Indonesia Refleksi tentang penurunan watak bangsa Indonesia menunjukkan adanya kesalahan dalam pendidikan kita. Menurut Arief Rachman kegagalan pendidikan di Indonesia diantaranya dapat dilihat dari keberhasilan pendidikan yang hanya diukur dari apsek kognitif dan nyaris tidak mengukur aspek efektif dan psikomotorik sehingga pembinaan watak dan budi pekerti terabaikan. Ukuran keberhasilan pendidikan selama ini hanya didasarkan pada aspek kuantitatif (angka-angka), seperti nilai raport, nilai UN, atau perolehn kursi di perguruan tinggi. Padahal untuk mewujudkan cita-cita bangsa melalui tujuan pendidikan Nasional membentuk manusia seutuhnya, aspek afektif (sikap dan kepribadian) dan psikomotorik (skill) dimasukkan dalam kriteria keberhasilan disamping nilai akademis yang baik.

Bukan Hanya Tanggung Jawab Guru BK Selain itu, gagalnya lembaga pendidikan mengemban visi bangsa ini untuk mewujudkan kepribadian siswa juga dapat dilihat dari kurang berperannya guru Bimbingan Konseling (BK) dalam membimbing siswa. Terkadang sering terjadi salah paham antara siswa dan orang tua siswa dalam melihat fungsi dan tugas guru BK yang hanya menangani siswa-siswa yang bermasalah saja. Persepsi ini keliru, tugas guru BK itu harusnya tidak hanya menangani siswa-siswa yang bermasalah saja seperti, berkelahi, tawuran antar pelajar, atau bolos sekolah, akan tetapi tugas guru BK juga memberikan layanan konseling siswa dalam hal pengembangan potensi dan minat bakat siswa. Jadi, penanganan konseling siswa tidak hanya sebatas menangani siswa yang bermasalah tetapi siswa yang tidak terlibat penyimpangan di sekolah pun menjadi perhatian guru BK. Tetapi dalam implementasinya, sampai dengan saat ini persepsi siswa mengenai guru BK masih banyak terkesan negatif, takut, dan malu untuk menemui guru BK dikarenakan sigma yang selama ini dibangun bahwa guru BK itu hanya menangani siswa-siswa yang bermasalah.

Oleh karenanya, kepala sekolah dalam hal ini perlu berkoordinasi dengan guru BK dalam rangka memberikan pemahaman fungsi dan tugas guru BK kepada siswa dan orang tua siswa agar tidak terjadi salah paham. Pihak sekolah juga seharusnya secara khusus membuat program terkait dengan layanan konseling siswa yang bersifat reguler. Untuk mewujudkan program ini tentunya tidak hanya dibebankan pada guru BK saja, tetapi guru Agama, PKN, atau Budi Pekerti dapat menjadi mitra guru BK dalam menjalankan program konseling siswa dalam aspek afektif (kepribadian). Dalam aspek kognitif dan psikomotor guru BK juga dapat bermitra dengan guru mata pelajaran lainnya dalam rangka pengembangan minat dan bakat siswa. Dengan mengoptimalkan peran guru BK beserta mitra kerjanya tersebut, diharapkan aktivitas belajar siswa di sekolah dapat diamati secara komprehensif, shingga pengembangan intelektual dapat berjalan seimbang dengan pembengunan watak serta kepribadian siswa.

Pendidikan Keluarga Menjadi Pilar Utama Menyimak persoalan tawuran antar pelajar yang kerap terjadi akhir-akhir ini tentu tidak hanya menjadi perhatian pihak sekolah semata, tetapi orang tua siswa dalam hal ini punya peran sentral dalam membimbing anak-anak mereka. Pendidikan keluarga, sebagai bentuk pendidikan informal akan memberikan pedoman kepada anak bagaimana seharusnya bersikap dan bertingkah laku setelah mereka keluar dari rumah atau di masyarakat. Itupun jika orang tua punya kimitmen dan paham seperti apa seharusnya mendidik anak. Seringkali yang terjadi adalah, orang tua beranggapan bahwa sekolah dan guru lah yang punya tanggung jawab mendidik dan membentuk moral serta kepribadian anak. Sehingga jika terjadi misalnya tawuran pelajar pihak sekolah dan orang tua saling tuding siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Saya pikir, tindakan yang bijak dari kedua belah pihak adalah tidak saling menyalahkan dan menyadari fungsi dan tanggung jawab masing-masing.

Aktivitas anak disekolah secara kuantitas sangatlah terbatas, sehingga dapat dipahami bahwa jika pihak sekolah dan guru dibebankan tugas mengajar dan mendidik sekian ratus siswa di sekolah tentu tidak akan terakomodir. Apalagi rasio jumlah guru lebih sedikit dibandingkan jumlah siswa. Dengan kondisi seperti ini, terkadang guru tidak bisa sepenuhnya mengawasi sikap dan tingkahlaku siswa secara personal. Oleh karena itu, peran pendidikan di keluarga seharusnya turut berperan dan dapat memberikan kontribusi dalam mendidik anak. Dalam hal ini saya berharap orang tua menyadari fungsi dan peran mereka akan pentingnya membimbing anak dengan membekali mereka melalui nilai-nilai agama dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Menurut hemat saya, pendidikan keluarga lah yang mempunyai peran utama dalam membentuk kepribadian anak dan sekolah hanya sebagai tempat kedua bagi anak untuk mengembangkan potensi serta bakat mereka. Walaupun di sekolah juga diajarkan nilai-nilai keluhuran, tetapi saya pikir porsi ini perlu di bantu dengan peran orang tua di dalam keluarga.

Mengubah Paradigma Pendidikan Kenakalan di kalangan remaja/pelajar akhir-akhir ini disikapi beragam oleh beberapa kalangan, tidak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa kenakalan remaja seperti tawuran pelajar disebabkan karena jumalah jam mata pelajaran Agama yang diajarkan di sekolah terlalu singkat. Satu minggu rata-rata hanya dua jam yang diberikan oleh pihak sekolah. Begitu juga dengan mata pelajaran PKN atau mata pelajaran Budi Pekerti. Asumsi ini ada benarnya juga, tetapi kurang tepat juga jika pihak sekolah berencana menambah jumlah jam pelajaran Agama dan Budi Pekerti lebih banyak. Karena persoalannya adalah bukan salah pada mata pelajaran yang terlalu sedikit, tetapi praktik pengajaran di sekolah tidak diarahkan untuk mempersiapkan siswa menghadapi realitas sosial. Menurut Paulo Freire pendidikan harus dapat mengintegrasikan realitas sosial dan menjadi agen untuk melakukan perubahan sosial guna membentuk masyarakat baru. Dalam hal ini siswa tidak hanya diberikan contoh-contoh, teori-teori, sekaligus rumus-rumus tetapi juga disertai laku-laku pemahaman (act of cognition). Menerjemahkan muatan dan isi pelajaran ke dalam realitas sosial barangkali menjadi entry point dari pendidikan hadap masalah. Freire menambahkan, praktik pendidikan yang terjadi selama ini selalu tidak sejalan dengan kenyataan yang dihadapi oleh siswa. Padahal proses pendidikan sesungguhnya dijalankan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan sumber daya manusia yang (minimal) sanggup menyelesaikan persoalan lokal yang melingkupinya.

Kondisi sekolah-sekolah kita saat ini hanya mampu menerjemahkan pendidikan sebagai sekedar transfer of knowledge yang dimiliki guru kepada siswa. Model pendidikan seperti ini hanya membebani siswa dengan teori untuk menjawab soal ujian, tetapi tidak mampu menerjemahkannya pada realitas sosial. Pendidikan menjadi tercerabut dari problem rill yang seharusnya mereka jawab. Praktik pendidikan yang terus berlangsung seperti inilah diduga menjadi salah satu penyebab gagalnya sekolah dalam mendidik siswanya untuk menjawab persoalan di masyarakat. Tawuran pelajar yang seringkali terjadi sedikit banyak mengindikasikan bahwa sebagian siswa tidak mampu menerjemahkan materi pelajaran yang diajarkan di sekolah kedalam persoalan realitas yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, saya kurang sepakat jika ada beberapa kalangan yang memberikan solusi untuk nenambah jam pelajaran Agama maupun Budi Pekerti. Hal ini akan sia-sia belaka, jika guru juga tidak mampu untuk menggiring siswa memahami dirinya sendiri dan realitas sosial.


Oleh: Dinar Pratama, M.Pd
Dosen STKIP Muhammadiyah Babel
1 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. stkipmbb.com : Terwujudnya Insan Pendidik Yang Berkemajuan Dan Mencerahkan 2020 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger