Back To Top
Komplek Perguruan Terpadu, Jl. K.H Ahmad Dahlan KM. 4 RT.03 No.51 Kelurahan. Mangkol Kecamatan. Pangkalan Baru Kabupaten. Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Telp/Fax. 0717-431 771 Email : stkip.mbb@gmail.com Website : www.stkipmbb.com
::: CEK LIST KELENGKAPAN BERKAS UNTUK UJIAN PROPOSAL, YUDISIUM dan DATA PENDUKUNG LAINNYA DAPAT DILIHAT DI MENU UNDUHAN::: UNTUK SAAT INI SIAKAD SUDAH DAPAT DIAKSES KEMBALI ::: INFORMASI SURAT KETERANGAN YANG DIKELUARKAN LSIK DAPAT DILIHAT DIMENU UNDUHAN ::: JADWAL UJIAN SKRIPSI DAPAT DILIHAT DI PENGUMUMAN ::: INFORMASI PENTING : SEGALA PENGUMUMAN & AGENDA YANG BERKAITAN DGN KEGIATAN KEMAHASISWAAN/KAMPUS DAPAT DILIHAT PADA MENU INFORMASI
Loading...

Rabu, 29 April 2015

KURIKULUM LPTK SEBAGAI ‘RESEP’ MEMBENTUK GURU

Derajat peradaban suatu bangsa selalu dikaitkan dengan kualitas pendidikan pada bangsa tersebut. Hal ini karena pendidikan memang memegang peran vital pada pembentukan karakter pribadi-pribadi dalam suatu bangsa. Karakter pribadi seseorang akan menentukan derajat peradaban orang tersebut yang pada akhirnya menentukan derajat peradaban suatu bangsa. Majunya suatu Negara ditentukan oleh majunya pendidikan bangsa pada negara tersebut.
Begitu strategisnya peran pendidikian pada suatu negara sehingga konsep, proses dan sistem pendidikan serta implementasinya harus berjalan dengan kualitas terbaik. Dalam konteks Negara kita Indonesia ketika berbagai ketertinggalan melanda berbagai aspek kehidupan termasuk terdegradasinya nilai-nilai moral ‘oknun’ warga negara, maka semua pandangan tertuju pada pendidikan, ada apa dengan pendidikan kita ?
Kemudian pandangan dan pertanyaan tersebut berlanjut kearah unsur-unsur dalam penyelenggaraan pendidikan, siapa pelaku utama dalam upaya ‘transform knowledge’ terhadap pribadi-pribadi bangsa ini ? Bagi mereka yang tidak mau tahu tentang kompleksnya penyelenggaraan pendidikan pada suatu Negara, dengan mudah akan langsung menunjuk ujung tombak dari implementasi konsep, proses dan sistem pendidikan itu yaitu guru. Tanpa mempertimbangkan bagaimana proses yang harus dijalani seseorang agar menjadi guru dan proses yang harus dijalaninya sebagai seorang guru. Memang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ketika misalnya ada yang beranggapan seperti itu. Karena senyatanya gurulah yang langsung berhadapan dengan warga sebagai ‘petugas’ pada lembaga formal pendidikan yaitu sekolah yang merupakan instrumen negara dalam bidang pendidikan.
Tapi sesungguhnya ketika kita objektif dalam pandangan dan memberikan pertanyaan serta memilih jawaban untuk permasalahn pendidikan maka tidak semudah kita langung menunjuk guru sebagai yang paling bertanggung jawab. Ada banyak hal lain termasuk didalamnya pengambil kebijakan, anggaran, sarana fisik maupun non fisik dan lain-lain yang begitu kompleks dengan berbagai pemasalahannya masing-masing. Dalam kaitannya dengan hal ini yang penting juga untuk kita perhatikan adalah peran strategis dari ruh pendidkan itu sendiri yaitu kurikulum.
Kenapa kurikulum ? karena kurikulum seungguhnya adalah ‘resep’ untuk membuat produk dari pendidikan. Guru adalah juga produk dari sebuah proses pendidikan yang menggunakan ‘resep’ kurikulum dalam ‘membuat’nya. Dalam hal ini ‘dapur’nya adalah LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidkan). Dengan demikian derajat kualitas guru yang dihasilkan sangat tergantung dengan kurikulum yang diterapkan oleh LPTK itu sendiri. Sehingga ketika ada hal permasalahan terkait kualitas guru maka sesungguhnya peran strategis pengembangan kurikulum LPTK (FKIP, IKIP dan STKIP) sebagai elemen proses pendidikan untuk melahirkan calon guru yang berkualitas patut dipertanyakan. Lahirnya UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah dengan jelas mengamanatkan bagaimana seharusnya profil guru dengan 4 (empat) kompetensi utamanya (pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian). Belum lagi tuntutan dan amanat sederet UU dan peraturan serta ketentuan lainnya yang terkait dengan pendidikan termasuk pendidikan tinggi dimana LPTK menjadi bagian didalamnya. Sudahkah kurikulum yang dijalankan LPTK saat ini menjawab tuntutan dan amanat dari berbagai UU, peraturan dan ketentuan tersebut ? Sehingga menjadi sebuah keniscayaan bagi LPTK untuk me-redesign kurikulum yang akan diterapkannya dalam rangka ‘resep membuat’ guru. Pada titik ini sungguh semakin terasa bahwa LPTK memiliki peran sentral dalam peningkatan kualitas guru.  Dan ‘resep’nya adalah kurikulum.

Kurikulum
Begitu banyak literatur terkait definisi tentang apa itu kurikulum, tapi paling tidak kita bisa mengacu pada satu definisi kurikulum yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UU SPN No. 20/2003)
Definisi tersebut mengandung dua dimensi arti yaitu kurikulum dalam ruang lingkup yang luas dan kurikulum dalam ruang lingkup yang lebih sempit. Dalam ruang lingkup yang luas kurikulum diartikan sebagai program pembelajaran pada suatu jenjang pendidikan. Sedangkan dalam ruang lingkup yang lebih sempit kurikulum diartikan sebagai program pembelajaran  untuk satu mata pelajaran/mata kuliah. Sehingga untuk konteks pembelajaran  terkait matakuliah kurikulum ‘Mata Pelajaran X’ misalnya pada LPTK pemahamannya adalah bahwa itu kurikulum dalam ruang lingkup sempit yaitu program pembelajaran untuk satu ‘Mata Pelajaran X’ saja. Tentu sangat berbeda cakupan pembahasannya baik dari segi waktu dan lain-lain jika dibandingkan dengan misalnya Kurikululum SD, Kurikulum SMP yang merupakan kurikulum jenjang pendidikan dasar atau kurikulum SMA/SMK/MA yang merupakan jenjang pendidikan menengah atas apalagi misalnya dbandingkan cakupan pembahasannya dengan kurikulum  Program Studi Pendidikan Olahraga yang merupakan jenjang S1. Hal ini karena kurikulum SD, SMP, SMA/SMK/MA, S1, S2 dan S3 itu merupakan program pembelajaran pada suatu jenjang pendidikan yang dipahami sebagai kurikulum dalam arti ruang lingkup yang lebih luas.
Baik dalam ruang lingkup yang luas maupun yang sempit  kurikulum merupakan rancangan yang menggambarkan pola organisasi dari komponen-komponen  kurikulum yaitu tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian, media pembelajaran dan evaluasi, disertai juga dengan unsur-unsur penunjang lainnya.
           
Perkembangan Kurikulum LPTK
Hingga saat ini paling tidak kita bisa mengelompokkan 5 (lima) era kurikulum LPTK yaitu : (1) era sebelum tahun 1970; (2) era tahun 1970an; (3) era tahun 1990an; (4) era tahun 2000an; dan (5) yaitu era sekarang yang  ditandai dengan beberapa UU, Peraturan dan Ketentuan terkait LPTK antara lain misalnya Permendikbud tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Naisonal Indonesia (KKNI) Bidang Pendidikan Tinggi, tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) dan tentang Standar Nasional Pendidikan Guru (SNPG).
Pada era sebelum tahun 1970 kurikulum LPTK menekankan pada calon guru profesional Dengan sistem : Concurrent/Terintegrasi  yaitu kompetensi akademik kependidikan, bidang studi & jati diri bangsa Indonesia (MKDU, MKDK, MKPBS, MKPBM) yang meliputi elemen nasionalisme, elemen pedagogik, elemen ilmu jiwa umum dan ilmu jiwa untuk mendidik, elemen didaktik metodik, elemen bidang yang diajarkan dan elemen Praktek Pengalaman Lapangan (PPL).
Kurikulum LPTK tahun 1970an menekankan pada 5 (lima) rumpun mata kuliah yaitu Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK), Mata Kuliah Penguasaan Bidang Studi (MKPBS), Mata Kuliah Proses Belajar Mengajar (MKPBM), dan Mata Kuliah Ciri Fakultas (MKCF). Pada era ini pendekatan kurikulum penekanan nya masih sama dengan kurikulum era sebelumnya.
Era tahun 1990an kurikulum ditekankan pada topik inti (content based curriculum, sehingga terkenal dengan Kurikulum Berbasis Isi. Pada era ini pengelompokan rumpun mata kuliah meliputi Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK), Mata Kuliah Keahlian (MKK) dan  Mata Kuliah Ciri Fakultas (MKCF).
Memasuki era 2000an kurikulum LPTK mengalami perubahan yang cukup signifikan ditandai dengan lahirnya UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), serta UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mengamanatkan 4 (empat) kompetensi guru yaitu (1) pedagogik, (2) profesional, (3) sosial, dan (4) kepribadian. Pada era ini penekanan kurikulum pada kompetensi yang harus dicapai sehingga dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) meliputi kompetensi utama dan kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya. Pada KBK di kenalkan juga istilah Kurikulum Inti dan Kurikulum Institusional mengacu UNESCO (1997): The Four Pilars of  Education. Rumpun mata kuliah pada KBK terdiri atas Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB).
Kurikulum LPTK era saat sekarang ini dikenal dengan kurikulum pendidikan tinggi yang bermula awalnya ditandai dengan lahirnya Permendiknas No. 8 tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra-Jab, PP nomor 66 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, UU nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, PP nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan; Perpres nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Permendikbud nomor 73 tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Bidang Pendidikan Tinggi, Permendikbud nomor 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Permendikbud tentang Standar Nasional Pendidikan Guru (SNPG). Dengan pengelompokan rumpun mata kuliah menjadi Kelompok Mata Kuliah Umum (MKU), Kelompok Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK), Kelompok Mata Kuliah Bidang Keahlian dan Penunjang (MKBK) yang dapat dijabarkan dengan pemisahan Kelompok Mata Kuliah Pilihan (MKP) dan Kelompok Mata Kuliah Keterampilan Proses Pembelajaran (MKKP) yang dapat dijabarkan dengan pemisahan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Pendidikan (MKPP).
Dengan berbagai regulasi tersebut LPTK harus menyesuaikan kurikulumnya melaui penyusunan kembali kurikulum yang mengacu pada KKNI, SNPT dan SNPG. Nilai tambah yang ingin di sematkan pada kurikulum LPTK yang mengacu pada KKNI, SNPT dan SNPG ini tidak lain  adalah pencapaian kualifikasi kompetensi lulusan sesuai profil guru yang diamanatkan undang-undang sehingga kurikulum yang diterapkan benar-benar mengarah pada pencapaian visi dan misi baik program studi maupun institusi.
Berdasarkan perkembangan kurikulum LPTK satu hal yang pasti tidak berubah bahwa kurikulum LPTK semua era menekankan pada penguasaan kompetensi  pedagogik dan didaktik metodik mata pelajaran yang nantinya akan diajarkan saat menjadi guru. Kompetensi pedagogik dan didaktik metodik ini merupakan salah satu kompetensi utama yang harus dicapai oleh mahasiswa calon guru. Pada kurikulum LPTK yang mengacu KKNI, SNPT dan SNPG mahasiswa harus diberi porsi yang lebih untuk membekali agar mahasisswa menguasai kompetensi pedagogik dan didaktik metodik yang dituangkan melalui matakuliah tersendiri yang bersifat khusus bukan menjadi sempalan sub pokok bahasan pada mata kuliah yang lain.
Bagi Mahasiswa LPTK, misalnya saja untuk rumpun Mata Kuliah Bidang Keahlian (MKBK), sebagaimana diketahui bahwa selain mahasiswa harus menguasai keterampilan (skill) bidang keahlian dari mata kuliah tersebut, mahasiswa juga harus menguasai pedagogik dan  didaktik metodik dalam mengajarkan keterampilan (skill) keahlian dari mata kuliah tersebut ke murid-muridnya saat menjadi guru nantinya. Hal ini mempertegas bahwa pentingnya kedudukan mata kuliah pedagogik  sebagai dasar kependidikan dan  mata kuliah didaktik metodik sebagai bekal bagi mahasiswa agar menguasai keterampilan proses pembelajaran. Untuk hasil yang lebih baik sesungguhnya keterampilan (skill) dari setiap mata kuliah pada  rumpun MKBK harus ada mata kuliah didaktik metodiknya, namun hal ini tentu tidak bisa dilakukan karena menyangkut beban studi yang terbatas yang harus ditempuh mahasiswa. Oleh karenanya dipilih dan dikelompokkan mata kuliah-mata kuliah dengan keterampilan (skill)  yang sejenis untuk diberikan mata kuliah didaktik metodiknya. Jadi ketika mahasiswa belajar misalnya mata kuliah X maka penekanan utamanya adalah fokus pada penguasaan keterampilan (skill) pada mata kuliah X tersebut. Sedangkan untuk mahasiswa agar menguasai bagaimana cara mengajarkan keterampilan (skill) pada mata kuliah X tersebut,  melalui mata kuliah didaktik metodik X yang penekanan utamanya memang fokus pada cara mengajarkan  keterampilan (skill) pada mata kuliah X tersebut. Penguasaan mahasiswa terhadap kompetensi pedagogik dan didaktik metodik ini dikongkritkan dengan kegiatan magang 1, 2 dan 3 di sekolah-sekolah sesuai amanat SNPG.    
Dengan demikian amanat UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menetapkan 4 (empat) kompetensi guru (pedagogik, professional, sosial dan  kepribadian) dapat dibekali LPTK kepada para mahasiswanya melalui kurikulum yang mengacu KKNI, SNPT dan SNPG. Desain kurikulum semacam ini merupakan penyelarasan kurikulum program studi S1 Pendidikan dengan kurikulum program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Kondisi ini tentu memudahkan bagi mahasiswa untuk memperoleh sertifikasi guru pada PPG yang nantinya diikuti.

Implikasi Kurikulum LPTK mengacu KKNI, SNPT dan SNPG
            Kurikulum LPTK yang mengacu KKNI, SNPT dan SNPG pada implementasinya dalam pembelajaran untuk calon guru mempunyai implikasi Trickle Down Effect, yang bermakna bahwa pembelajaran oleh dosen LPTK akan mempunyai dampak yang tersebarluaskan sehingga tugas dosen menjadi sangat strategis, di samping mendidik, mengajar, menggali potensi mahasiswa, ia pun bertindak sebagai model rujukan bagi calon guru masa kini dan masa depan, agar diperoleh keluaran yang kompeten dan profesional.
            Implikasi lain bahwa struktur kurikulum pendidikan akademik untuk calon guru yang disusun mengacu KKNI, SNPT dan SNPG telah menempatkan pemajanan awal (early exposure) bagi mahasiswa calon guru,  yaitu pemberian pengalaman sedini mungkin kepada calon guru dengan magang atau internship di sekolah secara berjenjang. Dalam konteks ini pedagogi dan didaktik metodik dipahami sebagai konsep yang merujuk pada dua aspek belajar yaitu berkaitan dengan apa dan bagaimana peserta didik  belajar; dan berkaitan dengan  bagaimana (calon) guru sebagai pembelajar belajar tentang mengajar dan membentuk keahliannya sebagai seorang profesional
            Pada akhirnya implikasi yang sangat di harapkan adalah bahwa guru yang dihasilkan dari penerapan kurikulum LPTK mengacu KKNI, SNPT dan SNPG ini mampu bertahan dan memenangkan kompetisi bidang pendidikan paling tidak di negara kita sendiri mengingat pada  tahun 2015 ini mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan guru-guru yang berasal dari negara-negara ASEAN bekerja/mengajar di sekolah-sekolah kita begitu juga sebaliknya.
            Harapannya dengan kualitas guru yang baik kita bisa merasakan berkah demografi negara kita Indonesia. Seperti kita ketahui bersama bahwa dalam rentang tahun 2010 – 2045, Indonesia mendapatkan berkah demografi. Pada tahun 2010 penduduk Indonesia dalam rentang usia 0-9 tahun mencapai 45.9 juta, sementara usia 11-19 tahun mencapai 43.55 juta. Hal ini berarti dalam rentang tahun 2010-2045 jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif sangat melimpah. Merekalah generasi emas yang bakal menjadi generasi penerus bangsa ini yang akan mengangkat derajat peradaban bangsa ke tingkat tertinggi dan mengantarkan republik ini menjadi negara maju. Keberhasilam mereka di masa depan sangat tergantung pada pendidikan saat ini. Mutu Pendidikan sangat ditentukan oleh guru-guru yang bermutu. Guru-guru yang bermutu sangat ditentukan oleh proses pendidikan di LPTK. LPTK yang bermutu adalah LPTK dengan kurikulum bermutu sebagai ‘resep’ dalam membuat dan menghasilkan guru-guru yang bermutu. Insha Allah. Aamiin.

Oleh :
Edy Mastoni, M.Pd.
Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung
Sekretaris Asosiasi Program Studi Pendidkan Olahraga LPTK PTM se-Indonesia